Jadikan Aku Kekasih
Halalmu
Created by: Henny Sumarja
Senja di
pinggir laut, dia duduk tepat di sampingku. Tatapan hangat mengarah kepadaku
seolah mata itu berbicara kalau ia benar-benar merindu.
“Ada apa dengan tatapanmu?”
tanyaku pada Adhe.
“Maaf karena menatapmu
seperti ini , hanya saja aku sangat merindukan paras manismu,” jawab Adhe
mencoba menggodaku.
“Rindu? bukannya kita
kemarin ketemu, lagian baru kenal seminggu masa iya langsung rindu,” jawabku
jelas.
Matahari berganti
dengan bulan yang indah bersama langit dan bintang-bintang, berjalan
meninggalkan pantai pasir putih dengan tangan besar menggenggam jemari kecilku,
sontak saja aku kaget karena ini kali pertama seseorang selain keluarga
menggenggamku.
“Apa yang kau lakukan?”
tanyaku sambil melepas genggamannya.
“Maaf Mel, nggak sengaja..
aku cuma mau lebih dekat sama kamu,” jawabnya.
“Hmm kalau mau lebih dekat
denganku, tidak seperti ini caranya, kita belum halal, kita belum sah untuk
menjadi pasangan kekasih yang bisa menyentuh, menggenggam dan lain sebagainya,
terlebih lagi aku belum terlalu mengenalmu jadi aku mohon jaga etika ketika
bersamaku,” kataku tegas.
Beberapa hari telah berlalu, dia masih saja datang mencuri
perhatian demi mendapatkan hatiku, awalnya aku selalu mengabaikan
kedatangannya, menolak apa pun yang ia berikan hingga tiba hari dimana aku
mulai menghargai pengorbanannya dan saat itulah imanku diuji. Siang itu di
depan gerbang Kampus, sangat lantang suara seseorang memanggil namaku lalu
berlari menghampiriku dan berkata omong kosong.
“Amel, aku beneran sayang
sama kamu, apa pun yang kamu minta, pasti aku kasih dan akunya cuman minta
jawabanmu yang dapat menyenangkan hati kecilku,” ungkap Adhe sembari menatapku.
“Eh Adhe, emm bukannya
kamu tidak baik atau bagaimana, cuman aku belum bisa nerima siapa pun, terlebih
Tuhan kita juga melarang hubungan asmara sebelum nikah,” jawabku.
“Tapi Mel, aku sayang sama
kamu, aku mau lindungin kamu, mau jagain kamu, mau ngebimbing kamu, serius,”
ujar Adhe.
“Emm maafin aku ya Dhe
tapi aku gak bisa, oiya aku pulang duluan.. assalamu alaikum,” jawabku lalu
beranjak pergi.
“Hmm wa’alaikumsalam Amel
(dengan wajah menunduk).”
Aku terus saja berjalan ke depan tanpa memerhatikan Adhe di
belakang sana, hanya saja pikiranku mulai tidak karuan. Di seberang jalan ada
sosok pria berpakaian serba hitam melihatku tanpa berkedip dan aku tidak tahu
dia siapa. Namun aku tetap melangkah serta berharap tidak terjadi apa-apa
denganku, sayangnya pria itu menghampiriku dengan memegang pisau kecil di
tangannya, tentu saja aku takut.
“Ka..ka.kamu siapa?”
tanyaku terbata-bata.
“Jangan takut de, aku
tidak akan memperlakukanmu buruk jika kamu mau menuruti permintaanku,” katanya.
“Maaf, salahku apa?”
tanyaku lagi seolah tidak mengindahkan perkataannya.
Dari arah yang berlawanan, seseorang datang menolongku, ia
penyelamat yang melepaskanku dari ancaman pria berjubah hitam itu. Setelah ia
datang, pria itu langsung pergi.
“Adhe.. ternyata kamu,
makasih ya sudah nolongin, aku gak kebayang kalo nggak ada kamu di sini (senyum
kecil),” ungkapan terima kasih pada seseorang yang telah menolongku dan dia
adalah Adhe.
“Tidak usah ngomong gitu
Mel, kan sudah seharusnya pria sejati menolong wanitanya hehee.”
“Tapi tetap saja, aku mau
bilang makasih banyak sama kamu.”
“Oiya yang jelas kamunya
baik-baik saja dan maaf agak telat datangnya karena dari jauh aku liat, kupikir
pria tadi teman kamu,” ujar Adhe.
Deg..deg.. (suara detakan jantung), spontan saja aku terharu
menyadari betapa perdulinya Adhe denganku yang dari tadi memperhatikanku dari
kejauhan. Lagi, dia menyunggingkan senyumannya untukku. Namun, kali ini
tidak biasa karena dengan segera aku
merespon senyuman itu.
“Waw.. ini kali pertama
kamu balas senyumku dengan cepat dan tanpa ragu, jangan-jangan kamu sudah mulai
suka sama aku, bukan begitu?,” tanyanya dengan gaya sok keren.
Hanya saja aku tidak menanggapi pertanyaannya lalu memilih
beranjak tinggalkan dia sendiri di seberang jalan. Ia terus saja memanggil
namaku meski tak kugubris.
“Amel.. Mel.. Aameel (teriak).”
Sore hari di rumahku setelah melaksanakan salat ashar,
kududuk di teras rumah menunggu jemputan dari teman kuliahku Mita sembari
membaca buku ‘Victims of Love’ yang isinya tentang nasihat Islam bagi pendamba
cinta sejati. Aku dan Mita seperti biasa kita akan ke Masjid dekat alun-alun
kota untuk mengikuti pengkajian bagi muslimah tiap jumatnya. Kita sudah 1 tahun
lebih gabung dengan pengkajian tersebut dan alhamdulillah banyak hal positif
yang kita terima di sana. Tiba di Masjid,
kita bertemu lagi dengan para muslimah cantik paras serta hatinya.
“Assalamu alaikum kak,”
sapaan manis salah satu member pengkajian, namanya Dinda.
“Wa’alaikumsalam Din,”
serempak aku dan Mita menjawab salam gadis cantik itu.
“Oiya kak, tema pengkajian
kali ini apa?” tanya Dinda kepada kami berdua.
“Tema sore ini tentang “Kekasih
Halal’ dek Dinda,” jawab Mita mendahuluiku.
“Iya dek Din, nah kamu
harus perhatikan dengan seksama ya apa yang dikatakan sama narasumber nanti,”
jawabku memperjelas.
“Sipp kaka Amel, kaka
Mita.”
Tema pengkajian sore ini tentang “Kekasih Halal”, pikiranku dibuat melayang dengan tema
tersebut, aku selalu mikir siapa pria yang kelak memintaku untuk menjadi kekasih
halalnya lalu hidup bahagia bersama selamanya. Aku ingin pria yang saleh, bisa
membimbingku menuju jannah-Nya dan tentunya aku harus membenah diri menjadi
wanita saleha yang senantiasa ingin dituntun oleh kekasih halalnya nanti. Tak
lama kuterlena dalam khayalan besarku, seseorang datang membuyarkan lamunanku.
“Amel (sambil menepuk
pundak kananku).”
“Ehh Mita (kaget).”
“Kamu ngapain di sini? pake
senyum-senyum sendirian hmhm, oiya acara udah mau dimulai nih Mel, kamu yang nge-MC kan?” tanya Mita.
“Oiya Mit, yaudah kalo
gitu ke dalam bareng yuk,” ajakku.
“Okeh Amel sayang (sambil
kedipin mata).”
Ini giliran aku yang bawa-in acara, kebetulan narasumbernya
adalah salah satu muslimah yang menginspirasiku untuk terus hijrah, hijrah dan
hijrah. Dia tidak hanya cantik wajah, akhlak dan hatinya juga luar biasa
cantiknya. Namanya adalah Nurul Intan Mutiara , orang lain kerap menyapanya
dengan sebutan Intan atau Nurul. Tapi aku lebih senang memanggilnya kakak Iin.
Kegiatan dimulai di dalam Masjid Agung, dihadiri oleh 25
orang anggota pengkajian yaitu terdiri dari anak SMA dan mahasiswa. Meski hanya
sedikit yang datang tapi kita tetap semangat untuk menerima materi bermanfaat
tersebut.
“Assalamu alaikum wr.wb,”
ucapku ke semua orang dalam ruangan sebagai pembuka acara.
“Wa’alaikum salam wr.wb,”
serempak orang-orang membalas salamku.
“Sebelum saya persilakan
kak Iin untuk berbagi ke kita semua, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih
atas kedatangannya kak Iin (menengok sambil tersenyum ke arah kak Iin) dan
terima kasih juga buat kalian yang sempat hadir, kalian luar biasa, serta tak
lupa rasa syukur sebesar-besarnya kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., karena
berkat-Nya lah, kita dapat melaksanakan kegiatan sore ini dalam keadaan sehat wal afiat, juga salawat dan salam
senantiasa kita haturkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, yang menjadi
panutan bagi kita semua. Em baik, untuk mengefisienkan waktu dan untuk
menghilangkan suntuk kalian karena daritadi saya yang ngomong panjang lebar di
sini hehee, jadi saya persilakan buat kak Iin yang selalu cantik untuk
memaparkan materinya dengan tema ‘Kekasih Halal’.”
“Terima kasih ukhti Amel
yang jauh lebih cantik (sambil tersenyum), ngomong-ngomong, akunya sedikit
merasa haru campur bangga melihat semangat ukhti-ukhti untuk senantiasa jihad
di jalan Allah dengan datang menghadiri kegiatan Islami ini, sangat senang
karena kalian memiliki inisiatif untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya,
terlebih lagi nih sama anak sekolahan yang semangat mudanya nampak sekali,
kalian tau tidak kenapa kakak angkat tema tentang kekasih halal,? tanya kak
Iin.
Suasana ruangan menjadi hening selama 2menit dan seketika
saja ada salah seorang mengacungkan telunjuk dengan maksud ingin menjawab
pertanyaan dari kak Iin.
“Aku kak mau jawab
(acungkan telunjuk),” kata adik pemberani itu yang belum diketahui namanya.
“Silakan dek, tapi
perkenalkan namanya lebih dulu ya, biar kita semua kenal sama adek cantik ini,”
jawab kak Iin.
“Assalamu alaikum, kenalin
namaku Kinah dari SMA Berani Maju, soal pertanyaan kaka Iin tadi, kaka ngambil
tema ‘Kekasih Halal’ dengan maksud agar kita tidak terjerumus ke arah pacaran,”
jawab Kinah.
“Masya Allah jawabannya,
udah kelas berapa dek Kinah,? tanya kak Iin.
“Kelas 2 SMA kak.”
“Pertengahan menuju dewasa
ya hehe, jawaban dari Kinah tadi sudah tepat karena Allah melarang kita untuk
pacaran walaupun tidak terlalu
diterangkan tentang pacaran, seperti dalam Q.S Al-Isro’ ayat 32 yang berbunyi:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya: ‘Dan janganlah kamu mendekati zina,
sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang
buruk.’
“Nah
ayat ini jelas sekali penekanan larangan berbuat zina, mendekati saja tidak
boleh apalagi kalo sampe melakukannya, sedangkan pacaran adalah salah satu
langkah mendekati zina tersebut, naudzubillahi
min zalik,” tambah kak Iin.
“Lalu
kak, apa masih ada surah lain atau hadist yang menerangkan larangan pacaran?”
tanyaku ke kak Iin selaku narasumber.
“Masih ada dek, ini salah satu hadist yang
melarang pacaran:
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ،
فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki
berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya
syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734)
“Hadist tersebut menerangkan kalo laki-laki dan perempuan yang bukan
sepasang suami istri lalu berdua-duaan seperti pacaran, mereka akan dihasut
oleh syaitan karena syaitan tidak pernah lelah untuk mengusik manusia,
mengganggu manusia, membuat manusia berdosa di hadapan Allah, terlebih lagi
anak zaman sekarang kalo pacaran terlalu berlebihan, kalo sudah terjadi
‘kecelakaan’ baru menyesal dan lagi-lagi perempuan yang menjadi korban. Jadi
kita sebagai perempuan lebih baik menunggu jodoh itu datang, sambil menunggu
yaa mari pantaskan diri dengan berbenah lagi menjadi wanita muslimah yang
disenangi oleh Allah dan didambakan orang-orag di luar sana,” ungkap kak Iin.
“Betul banget tuh kak, oiya ada yang mau bertanya ke kak Iin soal ini?”
tanyaku ke audience.
“Saya kak, mau nanya” (sambil mengangkat tangan)
“Oiya silakan de, jangan lupa sebut nama dan asal sekolah ya,” kataku.
“Assalamu alaikum.. namaku Aisyah dari SMA Harapan Jaya, jadi gini kak,
kalo misalkan ada sepasang kekasih saling menyukai dengan tulus tanpa ada niat
untuk ke arah zina, apakah itu tidak masalah kak menjalin hubungannya meski
belum menikah?” tanya salah satu peserta pengkajian.
“Wa’alaikum salam wr.wb, pertanyaannya bagus sekali dek, begini kan tadi
kaka sudah bilang kalo pacaran itu jalannya zina, kalau pun bukan pacaran juga
namanya tapi aplikasinya pacaran ya sama saja, sebaiknya nikah saja dek kalo
misalkan ada yang merasa udah saling sayang tulus yaa jalannya nikah, seperti
hadist ini dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW. bersabda,
لَمْ نَرَ
لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
“Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua
orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah
no. 1920).
“Intinya kalo udah saling sayang, cinta yaa nikah sajalah daripada buat
dosa terus menerus atau kalo gak bisa menikah karena belum mampu dari berbagai
sisi sebaiknya puasa untuk menahan nafsu itu, ada hadist dari Bukhari dan
Muslim yang menerangkan yang artinya ‘Barangsiapa
yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan
pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka
berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri,”
tambah kak Iin.
“Baik, mungkin semuanya sudah mengerti
apa yang dikatakan oleh kak Iin tadi, dari ayat-ayat yang disebutkan sudah
menjadi penegas buat kita untuk menjauhi pacaran dan belajar memantaskan diri
untuk dijemput oleh pria yang kelak menghalalkan kita di depan kedua orang tua
dan di depan banyak orang, aamiin. Saya
ucapkan terima kasih banyak kepada kak Iin telah meluangkan waktunya untuk
berbagi dengan kita serta makasih juga buat kalian yang telah menyukseskan
kegiatan ini dengan hadir di sini, akhirul
kalam minallahi musta’an wa alaihi tiklan summa wassalamu alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.”
Setelah kegiatan berakhir dan beres-beres, aku pun
bergegas pulang bersama Mita karena senja telah menyapa di ujung sana, mentari
perlahan menundukkan pandangannya dari kita. Aku juga sangat merindukan kamar
mandi dan kamar tidur untuk melepaskan penat. Mita nyaris saja tertidur ketika
mengendari motor matic-nya, untung saja
aku menepuk pundaknya berkali-kali dengan pelan untuk membuatnya tidak
kehilangan sadar.
“Mit..mit.. kamu jangan tidur, nanti kita jatuh,” (sambil menepuk pundak
Mita).
“Iya Mel, hampir nih akunya ketiduran di motor hhehe,” ujar Mita sambil
garuk-garuk helm hihih.
Tiba di rumah, baru
nyampe kamar eh telponku berdering, sebenarnya dari tadi udah dering
berkali-kali cuman tidak sempat ngangkat. Banyak sekali missed call dari orang itu tampil dilayar ponselku, dia Adhe teman
satu kampus sekaligus orang yang sering gangguin aku sejak semester awal sampai
sekarang. Telponku tidak berhenti berdering jadinya mau tidak mau aku terima
saja, mungkin dia ada perlu.
“Assalamu alaikum,” ucapan salam dari balik telpon.
“Wa’alaikum salam, maaf baru sempat angkat telponnya,” jawabku cuek
seperti biasa.
“Tidak masalah Mel, yang jelas sekarang aku tau kabar kamu, oiya kamu dari
mana aja kalo boleh tau?” tanyanya dengan penuh basa basi.
“Maaf Adhe, to the point saja
kalo kamu punya sesuatu yang mau dikatakan soalnya aku capek,” jawabku.
“Ya ini salah satu pengantar dari yang ingin aku katakana Mel,” ujar
Adhe.
Tanpa basa basi lagi, aku
menekan tombol merah dari layarku karena tadinya kupikir Adhe punya seuatu yang
penting untuk dibicarain ternyata hanya omong kosong seperti biasa. Lebih baik
aku tidur lebih awal untuk memulihkan tenaga kembali.
Subuh hari yang sejuk
lengkap dengan sapaan ayam-ayam tetangga (kuk kuu ruyyu), selepas melaksanakan
salat dengan segera aku menuju kamar mandi lalu bersiap-siap untuk ke Kampus. Sebelum
berangkat, kusempatkan untuk menikmati sarapan pagi nasi goreng buatan Ibu
tersayang.
“Makasih bu, makasannya enak sekali, ibu memang the best of the best,” godaku ke Ibu.
“Amel ini bisa aja goda ibunya, makasih sayang (memelukku)”
“Aku yang makasih bu, emm aku belum telat kan, yaudah aku berangkat
duulu, assalamu alaikum.”
“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan sayang.”
Sampainya di Kampus,
seseorang yang sama sudah berdiri di depan gerbang menantiku. Dia tersenyum,
senyumannya semakin melebar ketika aku melintas di hadapannya dan lagi-lagi dia
menyapaku dengan gaya sok kerennya.
“Assalamu alaikum bidadari manisku,” goda Adhe.
“Wa’alaikum salam wr.wb,” membalas salamnya lalu pergi.
“Amel… kamu kok ninggalin aku lagi sih.”
Sungguh melelahkan setiap
harinya digangguin dengan Adhe, meski berkali-kali aku cuekin, ia tetap saja
mendekat. Dia menghampiriku lagi di ruangam setelah kutinggal depan gerbang
tadi.
“Amel, untuk bertemu lama dengan kamu sama susahnya ketemu dengan
presiden bahkan lebih susah di kamu Mel,” ujar Adhe dengan nada ngos-ngosan.
“Atur nafas dulu baru ngomong,” kataku.
“Wah, kamu mulai memperhatikanku lagi ya Mel, berasa dibuang terus
diajak fly lagi hihih,” ungkap Adhe
keGR-an.
“Terserah kamulah, yang jelas sekarang aku tegasin kembali ya, kalo
masih soal rasamu terus yang kau bahas ketika bertemu denganku sebaiknya
urungkan niatmu karena aku tidak ingin
membahas hal seperti itu lagi,” kataku tegas.
“Baiklah Mel, kalo itu mau kamu, aku sekarang sadar kalo kamu memang
tidak pernah suka sama aku, maaf karena aku terlambat menyadarinya dan makasih
telah sadarkanku dengan sikapmu,” jawab Adhe dengan wajah yang terlihat sangat
kecewa.
“Adhe, bukan gitu maksud aku”
Tanpa memerdulikan
perkataanku, Adhe beranjak pergi dan ini pertama kalinya dia bertingkah seperti
itu. Mungkin aku sedikit kasar padanya tapi maksudku bukan seperti itu, aku
hanya ingin membatasi hubunganku dengan lawan jenis. Namun, Adhe menganggap
lain. Tiba-tiba saja Mita datang mengagetkanku.
“Amel, tadi aku lihat Adhe di luar lagi duduk sendirian, terus masa aku
deketin eh dianya diem aja, kan nyebelin Mel,” celoteh Mita.
“Emm apa Mit?” tanyaku.
“Yaa Amel, aku daritadi ngomong, kamunya nggak dengar gitu?” Tanya Mita
dengan suara lantangnya.
“Maaf Mit, aku ndak focus, kamu tadi bilang apa?” tanyaku lagi.
“Aduh Adhe sama kamu itu sama-sama menyebalkannya Mel, kalian berdua itu
kenapa hari ini?”
“Kenapa apanya Mit?”
“Tadi itu, aku lihat Adhe menyendiri kayak orang galau gitu deh, terus
sekarang kamunya kayak orang banyak pikiran juga sampe nggak fokus,” ujar Mita.
“Emm iya Mita, aku kepikiran sama Adhe sebenarnya, dia itu marah karena
tadi aku ngasih tau dia untuk tidak nemuin aku lagi kalo cuman bahas soal
perasaan tapi dia nangkep perkataanku lain” kataku.
“Ooh karena itu, pantas aja mukanya Adhe kayak pakaian belum disetrika,
kusut beuhh.”
“Kamu nih Mit, sembarangan.”
“Gini aja Mel, kamu bilang sama dia kalo itu hanya kesalahpahaman, kita
kan teman masa kayak musuhan,” ujar Mita.
“Kamu benar Mit, besok aku kasih tahu dia.”
Setelah meminta maaf
dengan Adhe, dia menganggap kalau aku tidak salah, dia yang malah minta maaf
kemudian menghilang sampai saat ini. Aku merasa ada yang berbeda semenjak Adhe
mulai menjauhiku, apa aku yang telah memulai duluan memutuskan tali silaturahmi dengan Adhe sampai dia
berubah, sangat berbeda dari sebelumnya. Hingga ada suatu hari, aku menantikan
ia di gerbang Kampus, memerhatikan dia di ruangan, menunggu telponnya, astagfirullah, apa yang kupikirkan ini sungguh tidak boleh
kulakukan lagi.
Hari sabtu adalah
kesempatanku untuk lari pagi biar sehat lalu ke rumah Mita pengen ngajakin
nyari buku di toko.
“Assalamu alaikum (sambil mengetuk pintu rumah Mita)”.
“Wa’alaikum salam wr.wb,” jawab seseorang di balik pintu dan ia adalah
Mita sendiri.
“Mita, kamu nggak sibuk kan? aku pengen ngajakin kamu nyari beberapa
buku, aku butuh teman baca lagi karena buku-buku di rumah semuanya udah kebaca sama
aku jadi sekarang mau nyari buku lagi, temenin ya Mit,” ajakku ke Mita dengan
nada manja.
“Iya Amel, udah nggak usah manja”an deh, gak kebayang kan kalo kamunya
manja gitu depan cowo heheh,” ujar Mita ngawur.
“Dih Mita apa’an, aku manjanya cuman sama orang tuaku dan kamu, kalo
yang belum halal, nggak ada manja-manjaan.”
“Okesih, aku ganti baju dulu Mel,”
“Iya Mita, jangan lama tapi,” kataku.
Tiba di toko buku, aku
dan Mita seperti biasa kalo ke toko buku pasti kayak orang lagi tawaf, seluruh
barisan rak bukunya dikelilingin berkali-kali sampai akhirnya cuman 4 buku yang
kebeli. Keluar dari toko, aku melihat dari kejauhan sosok Adhe yang ingin menyebrang
jalan, dia terlihat bersama seseorang yang sama sekali tidak kukenali. Ada rasa
aneh pas lihat mereka berdua jalan bergandeng tangan, aku harap ini hanya rasa
biasa-biasa saja. Tapi, tidak bisa terpungkiri, hatiku sesak melihat
pemandangan seperti itu. Adhe akan berjalan menyebrang ke arah tempatku
berdiri, aku harus lebih dulu pergi dengan Mita agar Adhe tidak melihat kami
berdua.
“Mita, ayo pulang.. udah masuk waktu salat dhuhur juga,” kataku.
“Iya Mel, ini baru mau keluarin motor dari parkiran,” jawab Mita
Sampai di rumah,
laksanakan salat kemudian duduk santai di teras rumah sambil baca buku yang
kubeli tadi. Sementara itu pikiran tentang Adhe kembali mengusikku, kepalaku
penuh tanya, siapa perempuan yang bersama Adhe tadi, kenapa mereka begitu
dekat, Adhe menghilang dari hadapanku lumayan lama dan tadi dia tiba-tiba tertangkap
oleh kedua mataku. Aku masih berharap, ini bukan perasaan yang istimewa untuk
Adhe. Ini bukan sesuatu yang wajar untuk kurasakan saat ini.
Beberapa tahun telah
berlalu dan sampai saat ini Adhe masih tidak berbicara denganku, bahkan di hari
bahagia kita semua yang telah berhasil menyelesaikan perkuliahan selama 4 tahun,
ia masih saja bersikap dingin padaku. Tatapannya tidak lagi hangat, aku selalu merasa
dingin dan canggung ketika berpapasan dengannya. Aku berharap bisa baikan
dengan dia, itu saja. Tanpa disangka, Adhe datang menghampiriku dengan membawa
setangkai mawar putih dan boneka angry
bird kesukaanku.
“Amel, maaf telah membuatmu merasa tidak nyaman selama ini, maaf atas
sikap ketidakdewasaanku dulu, maafkan aku Mel,” ungkap Adhe.
“Kamu tidak harus minta maaf Adhe, aku cuman mau tanya, siapa perempuan
2 tahun lalu bersamamu di depan toko buku seberang jalan? Tanyaku ke Adhe
dengan awalan percakapan yang buruk huft, aku mengungkap kejadian 2 tahun lalu.
“Emm aku ingat kejadian itu, kamu sedang bersama Mita kan?” tanya Adhe
memperjelas.
“Kenapa bisa tahu? Padahal aku ngerasa cuman aku yang liatin kamu waktu
itu dari jauh,” ujarku.
“Kamu ini Mel, memang nggak pernah berubah, kamu masih terlihat polos
seperti tidak mengenaliku saja, aku juga memperhatikanmu hari itu.”
“Abaikan sajalah, kamu bawa bunga dan boneka in untuk aku, iya?” tanyaku
memastikan.
“Pertama, perempuan itu, perempuan yang kamu lihat itu adalah sepupuku,
dia agak manja orangnya. Kedua, bunga dan boneka ini memang untuk kamu sebagai
permintaan maaf juga sebagai ucapan selamat dengan gelar barunya. Dan ketiga, aku
mau bilang sesuatu sama kamu.”
“Terima kasih untuk pertama dan kedua tapi untuk ketiga, sebelum kamu
bilang sesuatu itu, aku mau ngungkapin sesuatu lebih duulu. Maaf untuk sikap
cuekku dahulu, itu kulakukan agar kita tetap terlindungi dari segala hal yang dapat
mengarah ke perbuatan tidak disenangi Allah, dan sekarang kalo kamu benar masih
sayang sama aku, aku minta kamu untuk jadikan aku kekasih halalmu bukan kekasih
tidak jelasmu. Aku ingin dinikahi bukan
dipacari.”
“Sebenarnya, tadi aku mau bilang seperti ini, sebaiknya persiapkan
dirimu, beritahu kedua orang tuamu dan tunggu aku dan keluargaku datang
melamarmu besok,” ungkap Adhe tulus.
Kadang kejutan dari-Nya Sang
Maha Romantis tidak pernah kita duga, akan ada saat di mana Allah mendatangkan
jodoh kita dengan segera meski hanya ungkapan sederhana tapi penuh makna
seperti kata melamar itu. Percaya satu hal, kekasih halalmu masih on the way, masih proses memantaskan
diri jadi sebaliknya kamu juga harus begitu, pantaskan dirimu untuk jodoh yang
telah Allah tetapkan bersamamu. Jangan pernah berhenti untuk menjadi baik
karena perempuan yang baik untk laki-laki yang baik, sebaliknya seperti itu.
الْخَبِيثَاتُ
لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ
وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki
yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar