Selasa, 24 Desember 2019

Jadikan Aku Kekasih Halalmu
Created by: Henny Sumarja
Senja di pinggir laut, dia duduk tepat di sampingku. Tatapan hangat mengarah kepadaku seolah mata itu berbicara kalau ia benar-benar merindu.
“Ada apa dengan tatapanmu?” tanyaku pada Adhe.
“Maaf karena menatapmu seperti ini , hanya saja aku sangat merindukan paras manismu,” jawab Adhe mencoba menggodaku.
“Rindu? bukannya kita kemarin ketemu, lagian baru kenal seminggu masa iya langsung rindu,” jawabku jelas.
Matahari berganti dengan bulan yang indah bersama langit dan bintang-bintang, berjalan meninggalkan pantai pasir putih dengan tangan besar menggenggam jemari kecilku, sontak saja aku kaget karena ini kali pertama seseorang selain keluarga menggenggamku.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil melepas genggamannya.
“Maaf Mel, nggak sengaja.. aku cuma mau lebih dekat sama kamu,” jawabnya.
“Hmm kalau mau lebih dekat denganku, tidak seperti ini caranya, kita belum halal, kita belum sah untuk menjadi pasangan kekasih yang bisa menyentuh, menggenggam dan lain sebagainya, terlebih lagi aku belum terlalu mengenalmu jadi aku mohon jaga etika ketika bersamaku,” kataku tegas.
          Beberapa hari telah berlalu, dia masih saja datang mencuri perhatian demi mendapatkan hatiku, awalnya aku selalu mengabaikan kedatangannya, menolak apa pun yang ia berikan hingga tiba hari dimana aku mulai menghargai pengorbanannya dan saat itulah imanku diuji. Siang itu di depan gerbang Kampus, sangat lantang suara seseorang memanggil namaku lalu berlari menghampiriku dan berkata omong kosong.
“Amel, aku beneran sayang sama kamu, apa pun yang kamu minta, pasti aku kasih dan akunya cuman minta jawabanmu yang dapat menyenangkan hati kecilku,” ungkap Adhe sembari menatapku.
“Eh Adhe, emm bukannya kamu tidak baik atau bagaimana, cuman aku belum bisa nerima siapa pun, terlebih Tuhan kita juga melarang hubungan asmara sebelum nikah,” jawabku.
“Tapi Mel, aku sayang sama kamu, aku mau lindungin kamu, mau jagain kamu, mau ngebimbing kamu, serius,” ujar Adhe.
“Emm maafin aku ya Dhe tapi aku gak bisa, oiya aku pulang duluan.. assalamu alaikum,” jawabku lalu beranjak pergi.
“Hmm wa’alaikumsalam Amel (dengan wajah menunduk).”
          Aku terus saja berjalan ke depan tanpa memerhatikan Adhe di belakang sana, hanya saja pikiranku mulai tidak karuan. Di seberang jalan ada sosok pria berpakaian serba hitam melihatku tanpa berkedip dan aku tidak tahu dia siapa. Namun aku tetap melangkah serta berharap tidak terjadi apa-apa denganku, sayangnya pria itu menghampiriku dengan memegang pisau kecil di tangannya, tentu saja aku takut.
“Ka..ka.kamu siapa?” tanyaku terbata-bata.
“Jangan takut de, aku tidak akan memperlakukanmu buruk jika kamu mau menuruti permintaanku,” katanya.
“Maaf, salahku apa?” tanyaku lagi seolah tidak mengindahkan perkataannya.
          Dari arah yang berlawanan, seseorang datang menolongku, ia penyelamat yang melepaskanku dari ancaman pria berjubah hitam itu. Setelah ia datang, pria itu langsung pergi.
“Adhe.. ternyata kamu, makasih ya sudah nolongin, aku gak kebayang kalo nggak ada kamu di sini (senyum kecil),” ungkapan terima kasih pada seseorang yang telah menolongku dan dia adalah Adhe.
“Tidak usah ngomong gitu Mel, kan sudah seharusnya pria sejati menolong wanitanya hehee.”
“Tapi tetap saja, aku mau bilang makasih banyak sama kamu.”
“Oiya yang jelas kamunya baik-baik saja dan maaf agak telat datangnya karena dari jauh aku liat, kupikir pria tadi teman kamu,” ujar Adhe.
          Deg..deg.. (suara detakan jantung), spontan saja aku terharu menyadari betapa perdulinya Adhe denganku yang dari tadi memperhatikanku dari kejauhan. Lagi, dia menyunggingkan senyumannya untukku. Namun, kali ini tidak  biasa karena dengan segera aku merespon senyuman itu.
“Waw.. ini kali pertama kamu balas senyumku dengan cepat dan tanpa ragu, jangan-jangan kamu sudah mulai suka sama aku, bukan begitu?,” tanyanya dengan gaya sok keren.
          Hanya saja aku tidak menanggapi pertanyaannya lalu memilih beranjak tinggalkan dia sendiri di seberang jalan. Ia terus saja memanggil namaku meski tak kugubris.
“Amel.. Mel.. Aameel (teriak).”
          Sore hari di rumahku setelah melaksanakan salat ashar, kududuk di teras rumah menunggu jemputan dari teman kuliahku Mita sembari membaca buku ‘Victims of Love’ yang isinya tentang nasihat Islam bagi pendamba cinta sejati. Aku dan Mita seperti biasa kita akan ke Masjid dekat alun-alun kota untuk mengikuti pengkajian bagi muslimah tiap jumatnya. Kita sudah 1 tahun lebih gabung dengan pengkajian tersebut dan alhamdulillah banyak hal positif yang kita terima di sana. Tiba di Masjid,  kita bertemu lagi dengan para muslimah cantik paras serta hatinya.
“Assalamu alaikum kak,” sapaan manis salah satu member pengkajian, namanya Dinda.
“Wa’alaikumsalam Din,” serempak aku dan Mita menjawab salam gadis cantik itu.
“Oiya kak, tema pengkajian kali ini apa?” tanya Dinda kepada kami berdua.
“Tema sore ini tentang “Kekasih Halal’ dek Dinda,” jawab Mita mendahuluiku.
“Iya dek Din, nah kamu harus perhatikan dengan seksama ya apa yang dikatakan sama narasumber nanti,” jawabku memperjelas.
“Sipp kaka Amel, kaka Mita.”
          Tema pengkajian sore ini tentang “Kekasih Halal”,  pikiranku dibuat melayang dengan tema tersebut, aku selalu mikir siapa pria yang kelak memintaku untuk menjadi kekasih halalnya lalu hidup bahagia bersama selamanya. Aku ingin pria yang saleh, bisa membimbingku menuju jannah-Nya dan tentunya aku harus membenah diri menjadi wanita saleha yang senantiasa ingin dituntun oleh kekasih halalnya nanti. Tak lama kuterlena dalam khayalan besarku, seseorang datang membuyarkan lamunanku.
“Amel (sambil menepuk pundak kananku).”
“Ehh Mita (kaget).”
“Kamu ngapain di sini? pake senyum-senyum sendirian hmhm, oiya acara udah mau dimulai nih Mel, kamu yang nge-MC kan?” tanya Mita.
“Oiya Mit, yaudah kalo gitu ke dalam bareng yuk,” ajakku.
“Okeh Amel sayang (sambil kedipin mata).”
          Ini giliran aku yang bawa-in acara, kebetulan narasumbernya adalah salah satu muslimah yang menginspirasiku untuk terus hijrah, hijrah dan hijrah. Dia tidak hanya cantik wajah, akhlak dan hatinya juga luar biasa cantiknya. Namanya adalah Nurul Intan Mutiara , orang lain kerap menyapanya dengan sebutan Intan atau Nurul. Tapi aku lebih senang memanggilnya kakak Iin.
          Kegiatan dimulai di dalam Masjid Agung, dihadiri oleh 25 orang anggota pengkajian yaitu terdiri dari anak SMA dan mahasiswa. Meski hanya sedikit yang datang tapi kita tetap semangat untuk menerima materi bermanfaat tersebut.
“Assalamu alaikum wr.wb,” ucapku ke semua orang dalam ruangan sebagai pembuka acara.
“Wa’alaikum salam wr.wb,” serempak orang-orang membalas salamku.
“Sebelum saya persilakan kak Iin untuk berbagi ke kita semua, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih atas kedatangannya kak Iin (menengok sambil tersenyum ke arah kak Iin) dan terima kasih juga buat kalian yang sempat hadir, kalian luar biasa, serta tak lupa rasa syukur sebesar-besarnya kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., karena berkat-Nya lah, kita dapat melaksanakan kegiatan sore ini dalam keadaan sehat wal afiat, juga salawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, yang menjadi panutan bagi kita semua. Em baik, untuk mengefisienkan waktu dan untuk menghilangkan suntuk kalian karena daritadi saya yang ngomong panjang lebar di sini hehee, jadi saya persilakan buat kak Iin yang selalu cantik untuk memaparkan materinya dengan tema ‘Kekasih Halal’.”
“Terima kasih ukhti Amel yang jauh lebih cantik (sambil tersenyum), ngomong-ngomong, akunya sedikit merasa haru campur bangga melihat semangat ukhti-ukhti untuk senantiasa jihad di jalan Allah dengan datang menghadiri kegiatan Islami ini, sangat senang karena kalian memiliki inisiatif untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, terlebih lagi nih sama anak sekolahan yang semangat mudanya nampak sekali, kalian tau tidak kenapa kakak angkat tema tentang kekasih halal,? tanya kak Iin.
          Suasana ruangan menjadi hening selama 2menit dan seketika saja ada salah seorang mengacungkan telunjuk dengan maksud ingin menjawab pertanyaan dari kak Iin.
“Aku kak mau jawab (acungkan telunjuk),” kata adik pemberani itu yang belum diketahui namanya.
“Silakan dek, tapi perkenalkan namanya lebih dulu ya, biar kita semua kenal sama adek cantik ini,” jawab kak Iin.
“Assalamu alaikum, kenalin namaku Kinah dari SMA Berani Maju, soal pertanyaan kaka Iin tadi, kaka ngambil tema ‘Kekasih Halal’ dengan maksud agar kita tidak terjerumus ke arah pacaran,” jawab Kinah.
“Masya Allah jawabannya, udah kelas berapa dek Kinah,? tanya kak Iin.
“Kelas 2 SMA kak.”
“Pertengahan menuju dewasa ya hehe, jawaban dari Kinah tadi sudah tepat karena Allah melarang kita untuk pacaran  walaupun tidak terlalu diterangkan tentang pacaran, seperti dalam Q.S Al-Isro’ ayat 32 yang berbunyi:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا                                                                                
Artinya: ‘Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.’
Nah ayat ini jelas sekali penekanan larangan berbuat zina, mendekati saja tidak boleh apalagi kalo sampe melakukannya, sedangkan pacaran adalah salah satu langkah mendekati zina tersebut, naudzubillahi min zalik,” tambah kak Iin.
Lalu kak, apa masih ada surah lain atau hadist yang menerangkan larangan pacaran?” tanyaku ke kak Iin selaku narasumber.
“Masih ada dek, ini salah satu hadist yang melarang pacaran:
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734)

“Hadist tersebut menerangkan kalo laki-laki dan perempuan yang bukan sepasang suami istri lalu berdua-duaan seperti pacaran, mereka akan dihasut oleh syaitan karena syaitan tidak pernah lelah untuk mengusik manusia, mengganggu manusia, membuat manusia berdosa di hadapan Allah, terlebih lagi anak zaman sekarang kalo pacaran terlalu berlebihan, kalo sudah terjadi ‘kecelakaan’ baru menyesal dan lagi-lagi perempuan yang menjadi korban. Jadi kita sebagai perempuan lebih baik menunggu jodoh itu datang, sambil menunggu yaa mari pantaskan diri dengan berbenah lagi menjadi wanita muslimah yang disenangi oleh Allah dan didambakan orang-orag di luar sana,” ungkap kak Iin.
“Betul banget tuh kak, oiya ada yang mau bertanya ke kak Iin soal ini?” tanyaku ke audience.
“Saya kak, mau nanya” (sambil mengangkat tangan)
“Oiya silakan de, jangan lupa sebut nama dan asal sekolah ya,” kataku.
“Assalamu alaikum.. namaku Aisyah dari SMA Harapan Jaya, jadi gini kak, kalo misalkan ada sepasang kekasih saling menyukai dengan tulus tanpa ada niat untuk ke arah zina, apakah itu tidak masalah kak menjalin hubungannya meski belum menikah?” tanya salah satu peserta pengkajian.
“Wa’alaikum salam wr.wb, pertanyaannya bagus sekali dek, begini kan tadi kaka sudah bilang kalo pacaran itu jalannya zina, kalau pun bukan pacaran juga namanya tapi aplikasinya pacaran ya sama saja, sebaiknya nikah saja dek kalo misalkan ada yang merasa udah saling sayang tulus yaa jalannya nikah, seperti hadist ini dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW. bersabda,
لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920).

“Intinya kalo udah saling sayang, cinta yaa nikah sajalah daripada buat dosa terus menerus atau kalo gak bisa menikah karena belum mampu dari berbagai sisi sebaiknya puasa untuk menahan nafsu itu, ada hadist dari Bukhari dan Muslim yang menerangkan yang artinya ‘Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri,”  tambah kak Iin.
“Baik, mungkin semuanya sudah mengerti  apa yang dikatakan oleh kak Iin tadi, dari ayat-ayat yang disebutkan sudah menjadi penegas buat kita untuk menjauhi pacaran dan belajar memantaskan diri untuk dijemput oleh pria yang kelak menghalalkan kita di depan kedua orang tua dan di depan banyak orang, aamiin. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada kak Iin telah meluangkan waktunya untuk berbagi dengan kita serta makasih juga buat kalian yang telah menyukseskan kegiatan ini dengan hadir di sini, akhirul kalam minallahi musta’an wa alaihi tiklan summa wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Setelah kegiatan berakhir dan beres-beres, aku pun bergegas pulang bersama Mita karena senja telah menyapa di ujung sana, mentari perlahan menundukkan pandangannya dari kita. Aku juga sangat merindukan kamar mandi dan kamar tidur untuk melepaskan penat. Mita nyaris saja tertidur ketika mengendari motor matic-nya, untung saja aku menepuk pundaknya berkali-kali dengan pelan untuk membuatnya tidak kehilangan sadar.
“Mit..mit.. kamu jangan tidur, nanti kita jatuh,” (sambil menepuk pundak Mita).
“Iya Mel, hampir nih akunya ketiduran di motor hhehe,” ujar Mita sambil garuk-garuk helm hihih.
          Tiba di rumah, baru nyampe kamar eh telponku berdering, sebenarnya dari tadi udah dering berkali-kali cuman tidak sempat ngangkat. Banyak sekali missed call dari orang itu tampil dilayar ponselku, dia Adhe teman satu kampus sekaligus orang yang sering gangguin aku sejak semester awal sampai sekarang. Telponku tidak berhenti berdering jadinya mau tidak mau aku terima saja, mungkin dia ada perlu.
“Assalamu alaikum,” ucapan salam dari balik telpon.
“Wa’alaikum salam, maaf baru sempat angkat telponnya,” jawabku cuek seperti biasa.
“Tidak masalah Mel, yang jelas sekarang aku tau kabar kamu, oiya kamu dari mana aja kalo boleh tau?” tanyanya dengan penuh basa basi.
“Maaf Adhe, to the point saja kalo kamu punya sesuatu yang mau dikatakan soalnya aku capek,” jawabku.
“Ya ini salah satu pengantar dari yang ingin aku katakana Mel,” ujar Adhe.
          Tanpa basa basi lagi, aku menekan tombol merah dari layarku karena tadinya kupikir Adhe punya seuatu yang penting untuk dibicarain ternyata hanya omong kosong seperti biasa. Lebih baik aku tidur lebih awal untuk memulihkan tenaga kembali.
          Subuh hari yang sejuk lengkap dengan sapaan ayam-ayam tetangga (kuk kuu ruyyu), selepas melaksanakan salat dengan segera aku menuju kamar mandi lalu bersiap-siap untuk ke Kampus. Sebelum berangkat, kusempatkan untuk menikmati sarapan pagi nasi goreng buatan Ibu tersayang.
“Makasih bu, makasannya enak sekali, ibu memang the best of the best,” godaku ke Ibu.
“Amel ini bisa aja goda ibunya, makasih sayang (memelukku)”
“Aku yang makasih bu, emm aku belum telat kan, yaudah aku berangkat duulu, assalamu alaikum.”
“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan sayang.”
          Sampainya di Kampus, seseorang yang sama sudah berdiri di depan gerbang menantiku. Dia tersenyum, senyumannya semakin melebar ketika aku melintas di hadapannya dan lagi-lagi dia menyapaku dengan gaya sok kerennya.
“Assalamu alaikum bidadari manisku,” goda Adhe.
“Wa’alaikum salam wr.wb,” membalas salamnya lalu pergi.
“Amel… kamu kok ninggalin aku lagi sih.”
          Sungguh melelahkan setiap harinya digangguin dengan Adhe, meski berkali-kali aku cuekin, ia tetap saja mendekat. Dia menghampiriku lagi di ruangam setelah kutinggal depan gerbang tadi.
“Amel, untuk bertemu lama dengan kamu sama susahnya ketemu dengan presiden bahkan lebih susah di kamu Mel,” ujar Adhe dengan nada ngos-ngosan.
“Atur nafas dulu baru ngomong,” kataku.
“Wah, kamu mulai memperhatikanku lagi ya Mel, berasa dibuang terus diajak fly lagi hihih,” ungkap Adhe keGR-an.
“Terserah kamulah, yang jelas sekarang aku tegasin kembali ya, kalo masih soal rasamu terus yang kau bahas ketika bertemu denganku sebaiknya urungkan niatmu karena aku  tidak ingin membahas hal seperti itu lagi,” kataku tegas.
“Baiklah Mel, kalo itu mau kamu, aku sekarang sadar kalo kamu memang tidak pernah suka sama aku, maaf karena aku terlambat menyadarinya dan makasih telah sadarkanku dengan sikapmu,” jawab Adhe dengan wajah yang terlihat sangat kecewa.
“Adhe, bukan gitu maksud aku”
          Tanpa memerdulikan perkataanku, Adhe beranjak pergi dan ini pertama kalinya dia bertingkah seperti itu. Mungkin aku sedikit kasar padanya tapi maksudku bukan seperti itu, aku hanya ingin membatasi hubunganku dengan lawan jenis. Namun, Adhe menganggap lain. Tiba-tiba saja Mita datang mengagetkanku.
“Amel, tadi aku lihat Adhe di luar lagi duduk sendirian, terus masa aku deketin eh dianya diem aja, kan nyebelin Mel,” celoteh Mita.
“Emm apa Mit?” tanyaku.
“Yaa Amel, aku daritadi ngomong, kamunya nggak dengar gitu?” Tanya Mita dengan suara lantangnya.
“Maaf Mit, aku ndak focus, kamu tadi bilang apa?” tanyaku lagi.
“Aduh Adhe sama kamu itu sama-sama menyebalkannya Mel, kalian berdua itu kenapa hari ini?”
“Kenapa apanya Mit?”
“Tadi itu, aku lihat Adhe menyendiri kayak orang galau gitu deh, terus sekarang kamunya kayak orang banyak pikiran juga sampe nggak fokus,” ujar Mita.
“Emm iya Mita, aku kepikiran sama Adhe sebenarnya, dia itu marah karena tadi aku ngasih tau dia untuk tidak nemuin aku lagi kalo cuman bahas soal perasaan tapi dia nangkep perkataanku lain” kataku.
“Ooh karena itu, pantas aja mukanya Adhe kayak pakaian belum disetrika, kusut beuhh.”
“Kamu nih Mit, sembarangan.”
“Gini aja Mel, kamu bilang sama dia kalo itu hanya kesalahpahaman, kita kan teman masa kayak musuhan,” ujar Mita.
“Kamu benar Mit, besok aku kasih tahu dia.”
          Setelah meminta maaf dengan Adhe, dia menganggap kalau aku tidak salah, dia yang malah minta maaf kemudian menghilang sampai saat ini. Aku merasa ada yang berbeda semenjak Adhe mulai menjauhiku, apa aku yang telah memulai duluan memutuskan tali silaturahmi dengan Adhe sampai dia berubah, sangat berbeda dari sebelumnya. Hingga ada suatu hari, aku menantikan ia di gerbang Kampus, memerhatikan dia di ruangan, menunggu telponnya, astagfirullah,  apa yang kupikirkan ini sungguh tidak boleh kulakukan lagi.
          Hari sabtu adalah kesempatanku untuk lari pagi biar sehat lalu ke rumah Mita pengen ngajakin nyari buku di toko.
“Assalamu alaikum (sambil mengetuk pintu rumah Mita)”.
“Wa’alaikum salam wr.wb,” jawab seseorang di balik pintu dan ia adalah Mita sendiri.
“Mita, kamu nggak sibuk kan? aku pengen ngajakin kamu nyari beberapa buku, aku butuh teman baca lagi karena buku-buku di rumah semuanya udah kebaca sama aku jadi sekarang mau nyari buku lagi, temenin ya Mit,” ajakku ke Mita dengan nada manja.
“Iya Amel, udah nggak usah manja”an deh, gak kebayang kan kalo kamunya manja gitu depan cowo heheh,” ujar Mita ngawur.
“Dih Mita apa’an, aku manjanya cuman sama orang tuaku dan kamu, kalo yang belum halal, nggak ada manja-manjaan.”
“Okesih, aku ganti baju dulu Mel,”
“Iya Mita, jangan lama tapi,” kataku.
          Tiba di toko buku, aku dan Mita seperti biasa kalo ke toko buku pasti kayak orang lagi tawaf, seluruh barisan rak bukunya dikelilingin berkali-kali sampai akhirnya cuman 4 buku yang kebeli. Keluar dari toko, aku melihat dari kejauhan sosok Adhe yang ingin menyebrang jalan, dia terlihat bersama seseorang yang sama sekali tidak kukenali. Ada rasa aneh pas lihat mereka berdua jalan bergandeng tangan, aku harap ini hanya rasa biasa-biasa saja. Tapi, tidak bisa terpungkiri, hatiku sesak melihat pemandangan seperti itu. Adhe akan berjalan menyebrang ke arah tempatku berdiri, aku harus lebih dulu pergi dengan Mita agar Adhe tidak melihat kami berdua.
“Mita, ayo pulang.. udah masuk waktu salat dhuhur juga,” kataku.
“Iya Mel, ini baru mau keluarin motor dari parkiran,” jawab Mita
          Sampai di rumah, laksanakan salat kemudian duduk santai di teras rumah sambil baca buku yang kubeli tadi. Sementara itu pikiran tentang Adhe kembali mengusikku, kepalaku penuh tanya, siapa perempuan yang bersama Adhe tadi, kenapa mereka begitu dekat, Adhe menghilang dari hadapanku lumayan lama dan tadi dia tiba-tiba tertangkap oleh kedua mataku. Aku masih berharap, ini bukan perasaan yang istimewa untuk Adhe. Ini bukan sesuatu yang wajar untuk kurasakan saat ini.
          Beberapa tahun telah berlalu dan sampai saat ini Adhe masih tidak berbicara denganku, bahkan di hari bahagia kita semua yang telah berhasil menyelesaikan perkuliahan selama 4 tahun, ia masih saja bersikap dingin padaku. Tatapannya tidak lagi hangat, aku selalu merasa dingin dan canggung ketika berpapasan dengannya. Aku berharap bisa baikan dengan dia, itu saja. Tanpa disangka, Adhe datang menghampiriku dengan membawa setangkai mawar putih dan boneka angry bird  kesukaanku.
“Amel, maaf telah membuatmu merasa tidak nyaman selama ini, maaf atas sikap ketidakdewasaanku dulu, maafkan aku Mel,” ungkap Adhe.
“Kamu tidak harus minta maaf Adhe, aku cuman mau tanya, siapa perempuan 2 tahun lalu bersamamu di depan toko buku seberang jalan? Tanyaku ke Adhe dengan awalan percakapan yang buruk huft, aku mengungkap kejadian 2 tahun lalu.
“Emm aku ingat kejadian itu, kamu sedang bersama Mita kan?” tanya Adhe memperjelas.
“Kenapa bisa tahu? Padahal aku ngerasa cuman aku yang liatin kamu waktu itu dari jauh,” ujarku.
“Kamu ini Mel, memang nggak pernah berubah, kamu masih terlihat polos seperti tidak mengenaliku saja, aku juga memperhatikanmu hari itu.”
“Abaikan sajalah, kamu bawa bunga dan boneka in untuk aku, iya?” tanyaku memastikan.
“Pertama, perempuan itu, perempuan yang kamu lihat itu adalah sepupuku, dia agak manja orangnya. Kedua, bunga dan boneka ini memang untuk kamu sebagai permintaan maaf juga sebagai ucapan selamat dengan gelar barunya. Dan ketiga, aku mau bilang sesuatu sama kamu.”
“Terima kasih untuk pertama dan kedua tapi untuk ketiga, sebelum kamu bilang sesuatu itu, aku mau ngungkapin sesuatu lebih duulu. Maaf untuk sikap cuekku dahulu, itu kulakukan agar kita tetap terlindungi dari segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tidak disenangi Allah, dan sekarang kalo kamu benar masih sayang sama aku, aku minta kamu untuk jadikan aku kekasih halalmu bukan kekasih tidak jelasmu.  Aku ingin dinikahi bukan dipacari.”
“Sebenarnya, tadi aku mau bilang seperti ini, sebaiknya persiapkan dirimu, beritahu kedua orang tuamu dan tunggu aku dan keluargaku datang melamarmu besok,” ungkap Adhe tulus.
          Kadang kejutan dari-Nya Sang Maha Romantis tidak pernah kita duga, akan ada saat di mana Allah mendatangkan jodoh kita dengan segera meski hanya ungkapan sederhana tapi penuh makna seperti kata melamar itu. Percaya satu hal, kekasih halalmu masih on the way, masih proses memantaskan diri jadi sebaliknya kamu juga harus begitu, pantaskan dirimu untuk jodoh yang telah Allah tetapkan bersamamu. Jangan pernah berhenti untuk menjadi baik karena perempuan yang baik untk laki-laki yang baik, sebaliknya seperti itu.
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)








Rabu, 04 Januari 2017

Cerpen

Jadikan Aku Kekasih Halalmu

Senja di pinggir laut, dia duduk tepat di sampingku. Tatapan hangat mengarah kepadaku seolah mata itu berbicara kalau ia benar-benar merindu.
“Ada apa dengan tatapanmu?” tanyaku pada Adhe.
“Maaf karena menatapmu seperti ini , hanya saja aku sangat merindukan paras manismu,” jawab Adhe mencoba menggodaku.
“Rindu? bukannya kita kemarin ketemu, lagian baru kenal seminggu masa iya langsung rindu,” jawabku jelas.
Matahari berganti dengan bulan yang indah bersama langit dan bintang-bintang, berjalan meninggalkan pantai pasir putih dengan tangan besar menggenggam jemari kecilku, sontak saja aku kaget karena ini kali pertama seseorang selain keluarga menggenggamku.
“Apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil melepas genggamannya.
“Maaf Mel, nggak sengaja.. aku cuma mau lebih dekat sama kamu,” jawabnya.
“Hmm kalau mau lebih dekat denganku, tidak seperti ini caranya, kita belum halal, kita belum sah untuk menjadi pasangan kekasih yang bisa menyentuh, menggenggam dan lain sebagainya, terlebih lagi aku belum terlalu mengenalmu jadi aku mohon jaga etika ketika bersamaku,” kataku tegas.
          Beberapa hari telah berlalu, dia masih saja datang mencuri perhatian demi mendapatkan hatiku, awalnya aku selalu mengabaikan kedatangannya, menolak apa pun yang ia berikan hingga tiba hari dimana aku mulai menghargai pengorbanannya dan saat itulah imanku diuji. Siang itu di depan gerbang Kampus, sangat lantang suara seseorang memanggil namaku lalu berlari menghampiriku dan berkata omong kosong.
“Amel, aku beneran sayang sama kamu, apa pun yang kamu minta, pasti aku kasih dan akunya cuman minta jawabanmu yang dapat menyenangkan hati kecilku,” ungkap Adhe sembari menatapku.
“Eh Adhe, emm bukannya kamu tidak baik atau bagaimana, cuman aku belum bisa nerima siapa pun, terlebih Tuhan kita juga melarang hubungan asmara sebelum nikah,” jawabku.
“Tapi Mel, aku sayang sama kamu, aku mau lindungin kamu, mau jagain kamu, mau ngebimbing kamu, serius,” ujar Adhe.
“Emm maafin aku ya Dhe tapi aku gak bisa, oiya aku pulang duluan.. assalamu alaikum,” jawabku lalu beranjak pergi.
“Hmm wa’alaikumsalam Amel (dengan wajah menunduk).”
          Aku terus saja berjalan ke depan tanpa memerhatikan Adhe di belakang sana, hanya saja pikiranku mulai tidak karuan. Di seberang jalan ada sosok pria berpakaian serba hitam melihatku tanpa berkedip dan aku tidak tahu dia siapa. Namun aku tetap melangkah serta berharap tidak terjadi apa-apa denganku, sayangnya pria itu menghampiriku dengan memegang pisau kecil di tangannya, tentu saja aku takut.
“Ka..ka.kamu siapa?” tanyaku terbata-bata.
“Jangan takut de, aku tidak akan memperlakukanmu buruk jika kamu mau menuruti permintaanku,” katanya.
“Maaf, salahku apa?” tanyaku lagi seolah tidak mengindahkan perkataannya.
          Dari arah yang berlawanan, seseorang datang menolongku, ia penyelamat yang melepaskanku dari ancaman pria berjubah hitam itu. Setelah ia datang, pria itu langsung pergi.
“Adhe.. ternyata kamu, makasih ya sudah nolongin, aku gak kebayang kalo nggak ada kamu di sini (senyum kecil),” ungkapan terima kasih pada seseorang yang telah menolongku dan dia adalah Adhe.
“Tidak usah ngomong gitu Mel, kan sudah seharusnya pria sejati menolong wanitanya hehee.”
“Tapi tetap saja, aku mau bilang makasih banyak sama kamu.”
“Oiya yang jelas kamunya baik-baik saja dan maaf agak telat datangnya karena dari jauh aku liat, kupikir pria tadi teman kamu,” ujar Adhe.
          Deg..deg.. (suara detakan jantung), spontan saja aku terharu menyadari betapa perdulinya Adhe denganku yang dari tadi memperhatikanku dari kejauhan. Lagi, dia menyunggingkan senyumannya untukku. Namun, kali ini tidak  biasa karena dengan segera aku merespon senyuman itu.
“Waw.. ini kali pertama kamu balas senyumku dengan cepat dan tanpa ragu, jangan-jangan kamu sudah mulai suka sama aku, bukan begitu?,” tanyanya dengan gaya sok keren.
          Hanya saja aku tidak menanggapi pertanyaannya lalu memilih beranjak tinggalkan dia sendiri di seberang jalan. Ia terus saja memanggil namaku meski tak kugubris.
“Amel.. Mel.. Aameel (teriak).”
          Sore hari di rumahku setelah melaksanakan salat ashar, kududuk di teras rumah menunggu jemputan dari teman kuliahku Mita sembari membaca buku ‘Victims of Love’ yang isinya tentang nasihat Islam bagi pendamba cinta sejati. Aku dan Mita seperti biasa kita akan ke Masjid dekat alun-alun kota untuk mengikuti pengkajian bagi muslimah tiap jumatnya. Kita sudah 1 tahun lebih gabung dengan pengkajian tersebut dan alhamdulillah banyak hal positif yang kita terima di sana. Tiba di Masjid,  kita bertemu lagi dengan para muslimah cantik paras serta hatinya.
“Assalamu alaikum kak,” sapaan manis salah satu member pengkajian, namanya Dinda.
“Wa’alaikumsalam Din,” serempak aku dan Mita menjawab salam gadis cantik itu.
“Oiya kak, tema pengkajian kali ini apa?” tanya Dinda kepada kami berdua.
“Tema sore ini tentang “Kekasih Halal’ dek Dinda,” jawab Mita mendahuluiku.
“Iya dek Din, nah kamu harus perhatikan dengan seksama ya apa yang dikatakan sama narasumber nanti,” jawabku memperjelas.
“Sipp kaka Amel, kaka Mita.”
          Tema pengkajian sore ini tentang “Kekasih Halal”,  pikiranku dibuat melayang dengan tema tersebut, aku selalu mikir siapa pria yang kelak memintaku untuk menjadi kekasih halalnya lalu hidup bahagia bersama selamanya. Aku ingin pria yang saleh, bisa membimbingku menuju jannah-Nya dan tentunya aku harus membenah diri menjadi wanita saleha yang senantiasa ingin dituntun oleh kekasih halalnya nanti. Tak lama kuterlena dalam khayalan besarku, seseorang datang membuyarkan lamunanku.
“Amel (sambil menepuk pundak kananku).”
“Ehh Mita (kaget).”
“Kamu ngapain di sini? pake senyum-senyum sendirian hmhm, oiya acara udah mau dimulai nih Mel, kamu yang nge-MC kan?” tanya Mita.
“Oiya Mit, yaudah kalo gitu ke dalam bareng yuk,” ajakku.
“Okeh Amel sayang (sambil kedipin mata).”
          Ini giliran aku yang bawa-in acara, kebetulan narasumbernya adalah salah satu muslimah yang menginspirasiku untuk terus hijrah, hijrah dan hijrah. Dia tidak hanya cantik wajah, akhlak dan hatinya juga luar biasa cantiknya. Namanya adalah Nurul Intan Mutiara , orang lain kerap menyapanya dengan sebutan Intan atau Nurul. Tapi aku lebih senang memanggilnya kakak Iin.
          Kegiatan dimulai di dalam Masjid Agung, dihadiri oleh 25 orang anggota pengkajian yaitu terdiri dari anak SMA dan mahasiswa. Meski hanya sedikit yang datang tapi kita tetap semangat untuk menerima materi bermanfaat tersebut.
“Assalamu alaikum wr.wb,” ucapku ke semua orang dalam ruangan sebagai pembuka acara.
“Wa’alaikum salam wr.wb,” serempak orang-orang membalas salamku.
“Sebelum saya persilakan kak Iin untuk berbagi ke kita semua, terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih atas kedatangannya kak Iin (menengok sambil tersenyum ke arah kak Iin) dan terima kasih juga buat kalian yang sempat hadir, kalian luar biasa, serta tak lupa rasa syukur sebesar-besarnya kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., karena berkat-Nya lah, kita dapat melaksanakan kegiatan sore ini dalam keadaan sehat wal afiat, juga salawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, yang menjadi panutan bagi kita semua. Em baik, untuk mengefisienkan waktu dan untuk menghilangkan suntuk kalian karena daritadi saya yang ngomong panjang lebar di sini hehee, jadi saya persilakan buat kak Iin yang selalu cantik untuk memaparkan materinya dengan tema ‘Kekasih Halal’.”
“Terima kasih ukhti Amel yang jauh lebih cantik (sambil tersenyum), ngomong-ngomong, akunya sedikit merasa haru campur bangga melihat semangat ukhti-ukhti untuk senantiasa jihad di jalan Allah dengan datang menghadiri kegiatan Islami ini, sangat senang karena kalian memiliki inisiatif untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya, terlebih lagi nih sama anak sekolahan yang semangat mudanya nampak sekali, kalian tau tidak kenapa kakak angkat tema tentang kekasih halal,? tanya kak Iin.
          Suasana ruangan menjadi hening selama 2menit dan seketika saja ada salah seorang mengacungkan telunjuk dengan maksud ingin menjawab pertanyaan dari kak Iin.
“Aku kak mau jawab (acungkan telunjuk),” kata adik pemberani itu yang belum diketahui namanya.
“Silakan dek, tapi perkenalkan namanya lebih dulu ya, biar kita semua kenal sama adek cantik ini,” jawab kak Iin.
“Assalamu alaikum, kenalin namaku Kinah dari SMA Berani Maju, soal pertanyaan kaka Iin tadi, kaka ngambil tema ‘Kekasih Halal’ dengan maksud agar kita tidak terjerumus ke arah pacaran,” jawab Kinah.
“Masya Allah jawabannya, udah kelas berapa dek Kinah,? tanya kak Iin.
“Kelas 2 SMA kak.”
“Pertengahan menuju dewasa ya hehe, jawaban dari Kinah tadi sudah tepat karena Allah melarang kita untuk pacaran  walaupun tidak terlalu diterangkan tentang pacaran, seperti dalam Q.S Al-Isro’ ayat 32 yang berbunyi:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا                                                                                
Artinya: ‘Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.’
Nah ayat ini jelas sekali penekanan larangan berbuat zina, mendekati saja tidak boleh apalagi kalo sampe melakukannya, sedangkan pacaran adalah salah satu langkah mendekati zina tersebut, naudzubillahi min zalik,” tambah kak Iin.
Lalu kak, apa masih ada surah lain atau hadist yang menerangkan larangan pacaran?” tanyaku ke kak Iin selaku narasumber.
“Masih ada dek, ini salah satu hadist yang melarang pacaran:
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734)

“Hadist tersebut menerangkan kalo laki-laki dan perempuan yang bukan sepasang suami istri lalu berdua-duaan seperti pacaran, mereka akan dihasut oleh syaitan karena syaitan tidak pernah lelah untuk mengusik manusia, mengganggu manusia, membuat manusia berdosa di hadapan Allah, terlebih lagi anak zaman sekarang kalo pacaran terlalu berlebihan, kalo sudah terjadi ‘kecelakaan’ baru menyesal dan lagi-lagi perempuan yang menjadi korban. Jadi kita sebagai perempuan lebih baik menunggu jodoh itu datang, sambil menunggu yaa mari pantaskan diri dengan berbenah lagi menjadi wanita muslimah yang disenangi oleh Allah dan didambakan orang-orag di luar sana,” ungkap kak Iin.
“Betul banget tuh kak, oiya ada yang mau bertanya ke kak Iin soal ini?” tanyaku ke audience.
“Saya kak, mau nanya” (sambil mengangkat tangan)
“Oiya silakan de, jangan lupa sebut nama dan asal sekolah ya,” kataku.
“Assalamu alaikum.. namaku Aisyah dari SMA Harapan Jaya, jadi gini kak, kalo misalkan ada sepasang kekasih saling menyukai dengan tulus tanpa ada niat untuk ke arah zina, apakah itu tidak masalah kak menjalin hubungannya meski belum menikah?” tanya salah satu peserta pengkajian.
“Wa’alaikum salam wr.wb, pertanyaannya bagus sekali dek, begini kan tadi kaka sudah bilang kalo pacaran itu jalannya zina, kalau pun bukan pacaran juga namanya tapi aplikasinya pacaran ya sama saja, sebaiknya nikah saja dek kalo misalkan ada yang merasa udah saling sayang tulus yaa jalannya nikah, seperti hadist ini dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW. bersabda,
لَمْ نَرَ لِلْمُتَحَابَّيْنِ مِثْلَ النِّكَاحِ
Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920).

“Intinya kalo udah saling sayang, cinta yaa nikah sajalah daripada buat dosa terus menerus atau kalo gak bisa menikah karena belum mampu dari berbagai sisi sebaiknya puasa untuk menahan nafsu itu, ada hadist dari Bukhari dan Muslim yang menerangkan yang artinya ‘Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri,”  tambah kak Iin.
“Baik, mungkin semuanya sudah mengerti  apa yang dikatakan oleh kak Iin tadi, dari ayat-ayat yang disebutkan sudah menjadi penegas buat kita untuk menjauhi pacaran dan belajar memantaskan diri untuk dijemput oleh pria yang kelak menghalalkan kita di depan kedua orang tua dan di depan banyak orang, aamiin. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada kak Iin telah meluangkan waktunya untuk berbagi dengan kita serta makasih juga buat kalian yang telah menyukseskan kegiatan ini dengan hadir di sini, akhirul kalam minallahi musta’an wa alaihi tiklan summa wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Setelah kegiatan berakhir dan beres-beres, aku pun bergegas pulang bersama Mita karena senja telah menyapa di ujung sana, mentari perlahan menundukkan pandangannya dari kita. Aku juga sangat merindukan kamar mandi dan kamar tidur untuk melepaskan penat. Mita nyaris saja tertidur ketika mengendari motor matic-nya, untung saja aku menepuk pundaknya berkali-kali dengan pelan untuk membuatnya tidak kehilangan sadar.
“Mit..mit.. kamu jangan tidur, nanti kita jatuh,” (sambil menepuk pundak Mita).
“Iya Mel, hampir nih akunya ketiduran di motor hhehe,” ujar Mita sambil garuk-garuk helm hihih.
          Tiba di rumah, baru nyampe kamar eh telponku berdering, sebenarnya dari tadi udah dering berkali-kali cuman tidak sempat ngangkat. Banyak sekali missed call dari orang itu tampil dilayar ponselku, dia Adhe teman satu kampus sekaligus orang yang sering gangguin aku sejak semester awal sampai sekarang. Telponku tidak berhenti berdering jadinya mau tidak mau aku terima saja, mungkin dia ada perlu.
“Assalamu alaikum,” ucapan salam dari balik telpon.
“Wa’alaikum salam, maaf baru sempat angkat telponnya,” jawabku cuek seperti biasa.
“Tidak masalah Mel, yang jelas sekarang aku tau kabar kamu, oiya kamu dari mana aja kalo boleh tau?” tanyanya dengan penuh basa basi.
“Maaf Adhe, to the point saja kalo kamu punya sesuatu yang mau dikatakan soalnya aku capek,” jawabku.
“Ya ini salah satu pengantar dari yang ingin aku katakana Mel,” ujar Adhe.
          Tanpa basa basi lagi, aku menekan tombol merah dari layarku karena tadinya kupikir Adhe punya seuatu yang penting untuk dibicarain ternyata hanya omong kosong seperti biasa. Lebih baik aku tidur lebih awal untuk memulihkan tenaga kembali.
          Subuh hari yang sejuk lengkap dengan sapaan ayam-ayam tetangga (kuk kuu ruyyu), selepas melaksanakan salat dengan segera aku menuju kamar mandi lalu bersiap-siap untuk ke Kampus. Sebelum berangkat, kusempatkan untuk menikmati sarapan pagi nasi goreng buatan Ibu tersayang.
“Makasih bu, makasannya enak sekali, ibu memang the best of the best,” godaku ke Ibu.
“Amel ini bisa aja goda ibunya, makasih sayang (memelukku)”
“Aku yang makasih bu, emm aku belum telat kan, yaudah aku berangkat duulu, assalamu alaikum.”
“Wa’alaikum salam, hati-hati di jalan sayang.”
          Sampainya di Kampus, seseorang yang sama sudah berdiri di depan gerbang menantiku. Dia tersenyum, senyumannya semakin melebar ketika aku melintas di hadapannya dan lagi-lagi dia menyapaku dengan gaya sok kerennya.
“Assalamu alaikum bidadari manisku,” goda Adhe.
“Wa’alaikum salam wr.wb,” membalas salamnya lalu pergi.
“Amel… kamu kok ninggalin aku lagi sih.”
          Sungguh melelahkan setiap harinya digangguin dengan Adhe, meski berkali-kali aku cuekin, ia tetap saja mendekat. Dia menghampiriku lagi di ruangam setelah kutinggal depan gerbang tadi.
“Amel, untuk bertemu lama dengan kamu sama susahnya ketemu dengan presiden bahkan lebih susah di kamu Mel,” ujar Adhe dengan nada ngos-ngosan.
“Atur nafas dulu baru ngomong,” kataku.
“Wah, kamu mulai memperhatikanku lagi ya Mel, berasa dibuang terus diajak fly lagi hihih,” ungkap Adhe keGR-an.
“Terserah kamulah, yang jelas sekarang aku tegasin kembali ya, kalo masih soal rasamu terus yang kau bahas ketika bertemu denganku sebaiknya urungkan niatmu karena aku  tidak ingin membahas hal seperti itu lagi,” kataku tegas.
“Baiklah Mel, kalo itu mau kamu, aku sekarang sadar kalo kamu memang tidak pernah suka sama aku, maaf karena aku terlambat menyadarinya dan makasih telah sadarkanku dengan sikapmu,” jawab Adhe dengan wajah yang terlihat sangat kecewa.
“Adhe, bukan gitu maksud aku”
          Tanpa memerdulikan perkataanku, Adhe beranjak pergi dan ini pertama kalinya dia bertingkah seperti itu. Mungkin aku sedikit kasar padanya tapi maksudku bukan seperti itu, aku hanya ingin membatasi hubunganku dengan lawan jenis. Namun, Adhe menganggap lain. Tiba-tiba saja Mita datang mengagetkanku.
“Amel, tadi aku lihat Adhe di luar lagi duduk sendirian, terus masa aku deketin eh dianya diem aja, kan nyebelin Mel,” celoteh Mita.
“Emm apa Mit?” tanyaku.
“Yaa Amel, aku daritadi ngomong, kamunya nggak dengar gitu?” Tanya Mita dengan suara lantangnya.
“Maaf Mit, aku ndak focus, kamu tadi bilang apa?” tanyaku lagi.
“Aduh Adhe sama kamu itu sama-sama menyebalkannya Mel, kalian berdua itu kenapa hari ini?”
“Kenapa apanya Mit?”
“Tadi itu, aku lihat Adhe menyendiri kayak orang galau gitu deh, terus sekarang kamunya kayak orang banyak pikiran juga sampe nggak fokus,” ujar Mita.
“Emm iya Mita, aku kepikiran sama Adhe sebenarnya, dia itu marah karena tadi aku ngasih tau dia untuk tidak nemuin aku lagi kalo cuman bahas soal perasaan tapi dia nangkep perkataanku lain” kataku.
“Ooh karena itu, pantas aja mukanya Adhe kayak pakaian belum disetrika, kusut beuhh.”
“Kamu nih Mit, sembarangan.”
“Gini aja Mel, kamu bilang sama dia kalo itu hanya kesalahpahaman, kita kan teman masa kayak musuhan,” ujar Mita.
“Kamu benar Mit, besok aku kasih tahu dia.”
          Setelah meminta maaf dengan Adhe, dia menganggap kalau aku tidak salah, dia yang malah minta maaf kemudian menghilang sampai saat ini. Aku merasa ada yang berbeda semenjak Adhe mulai menjauhiku, apa aku yang telah memulai duluan memutuskan tali silaturahmi dengan Adhe sampai dia berubah, sangat berbeda dari sebelumnya. Hingga ada suatu hari, aku menantikan ia di gerbang Kampus, memerhatikan dia di ruangan, menunggu telponnya, astagfirullah,  apa yang kupikirkan ini sungguh tidak boleh kulakukan lagi.
          Hari sabtu adalah kesempatanku untuk lari pagi biar sehat lalu ke rumah Mita pengen ngajakin nyari buku di toko.
“Assalamu alaikum (sambil mengetuk pintu rumah Mita)”.
“Wa’alaikum salam wr.wb,” jawab seseorang di balik pintu dan ia adalah Mita sendiri.
“Mita, kamu nggak sibuk kan? aku pengen ngajakin kamu nyari beberapa buku, aku butuh teman baca lagi karena buku-buku di rumah semuanya udah kebaca sama aku jadi sekarang mau nyari buku lagi, temenin ya Mit,” ajakku ke Mita dengan nada manja.
“Iya Amel, udah nggak usah manja”an deh, gak kebayang kan kalo kamunya manja gitu depan cowo heheh,” ujar Mita ngawur.
“Dih Mita apa’an, aku manjanya cuman sama orang tuaku dan kamu, kalo yang belum halal, nggak ada manja-manjaan.”
“Okesih, aku ganti baju dulu Mel,”
“Iya Mita, jangan lama tapi,” kataku.
          Tiba di toko buku, aku dan Mita seperti biasa kalo ke toko buku pasti kayak orang lagi tawaf, seluruh barisan rak bukunya dikelilingin berkali-kali sampai akhirnya cuman 4 buku yang kebeli. Keluar dari toko, aku melihat dari kejauhan sosok Adhe yang ingin menyebrang jalan, dia terlihat bersama seseorang yang sama sekali tidak kukenali. Ada rasa aneh pas lihat mereka berdua jalan bergandeng tangan, aku harap ini hanya rasa biasa-biasa saja. Tapi, tidak bisa terpungkiri, hatiku sesak melihat pemandangan seperti itu. Adhe akan berjalan menyebrang ke arah tempatku berdiri, aku harus lebih dulu pergi dengan Mita agar Adhe tidak melihat kami berdua.
“Mita, ayo pulang.. udah masuk waktu salat dhuhur juga,” kataku.
“Iya Mel, ini baru mau keluarin motor dari parkiran,” jawab Mita
          Sampai di rumah, laksanakan salat kemudian duduk santai di teras rumah sambil baca buku yang kubeli tadi. Sementara itu pikiran tentang Adhe kembali mengusikku, kepalaku penuh tanya, siapa perempuan yang bersama Adhe tadi, kenapa mereka begitu dekat, Adhe menghilang dari hadapanku lumayan lama dan tadi dia tiba-tiba tertangkap oleh kedua mataku. Aku masih berharap, ini bukan perasaan yang istimewa untuk Adhe. Ini bukan sesuatu yang wajar untuk kurasakan saat ini.
          Beberapa tahun telah berlalu dan sampai saat ini Adhe masih tidak berbicara denganku, bahkan di hari bahagia kita semua yang telah berhasil menyelesaikan perkuliahan selama 4 tahun, ia masih saja bersikap dingin padaku. Tatapannya tidak lagi hangat, aku selalu merasa dingin dan canggung ketika berpapasan dengannya. Aku berharap bisa baikan dengan dia, itu saja. Tanpa disangka, Adhe datang menghampiriku dengan membawa setangkai mawar putih dan boneka angry bird  kesukaanku.
“Amel, maaf telah membuatmu merasa tidak nyaman selama ini, maaf atas sikap ketidakdewasaanku dulu, maafkan aku Mel,” ungkap Adhe.
“Kamu tidak harus minta maaf Adhe, aku cuman mau tanya, siapa perempuan 2 tahun lalu bersamamu di depan toko buku seberang jalan? Tanyaku ke Adhe dengan awalan percakapan yang buruk huft, aku mengungkap kejadian 2 tahun lalu.
“Emm aku ingat kejadian itu, kamu sedang bersama Mita kan?” tanya Adhe memperjelas.
“Kenapa bisa tahu? Padahal aku ngerasa cuman aku yang liatin kamu waktu itu dari jauh,” ujarku.
“Kamu ini Mel, memang nggak pernah berubah, kamu masih terlihat polos seperti tidak mengenaliku saja, aku juga memperhatikanmu hari itu.”
“Abaikan sajalah, kamu bawa bunga dan boneka in untuk aku, iya?” tanyaku memastikan.
“Pertama, perempuan itu, perempuan yang kamu lihat itu adalah sepupuku, dia agak manja orangnya. Kedua, bunga dan boneka ini memang untuk kamu sebagai permintaan maaf juga sebagai ucapan selamat dengan gelar barunya. Dan ketiga, aku mau bilang sesuatu sama kamu.”
“Terima kasih untuk pertama dan kedua tapi untuk ketiga, sebelum kamu bilang sesuatu itu, aku mau ngungkapin sesuatu lebih duulu. Maaf untuk sikap cuekku dahulu, itu kulakukan agar kita tetap terlindungi dari segala hal yang dapat mengarah ke perbuatan tidak disenangi Allah, dan sekarang kalo kamu benar masih sayang sama aku, aku minta kamu untuk jadikan aku kekasih halalmu bukan kekasih tidak jelasmu.  Aku ingin dinikahi bukan dipacari.”
“Sebenarnya, tadi aku mau bilang seperti ini, sebaiknya persiapkan dirimu, beritahu kedua orang tuamu dan tunggu aku dan keluargaku datang melamarmu besok,” ungkap Adhe tulus.
          Kadang kejutan dari-Nya Sang Maha Romantis tidak pernah kita duga, akan ada saat di mana Allah mendatangkan jodoh kita dengan segera meski hanya ungkapan sederhana tapi penuh makna seperti kata melamar itu. Percaya satu hal, kekasih halalmu masih on the way, masih proses memantaskan diri jadi sebaliknya kamu juga harus begitu, pantaskan dirimu untuk jodoh yang telah Allah tetapkan bersamamu. Jangan pernah berhenti untuk menjadi baik karena perempuan yang baik untk laki-laki yang baik, sebaliknya seperti itu.
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)